Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11 malam kurang beberapa menit, saat seorang anak muda di belakang saya tiba-tiba maju ke meja kasir. Ia letakkan tiga buah botol minuman langsung. Rupanya terlalu berat kalau dia pegang terus. Satu botol bertuliskan Anker Bir. Satu lagi terdapat merek Guinness dalam kemasan yang lebih besar. Dan yang paling kecil, seukuran botol minuman ringan, tidak dapat saya temukan namanya. Yang jelas warnanya kuning keemasan bening, mirip bensin.
Usianya mungkin belum genap 20 tahun. Dari uang yang disiapkannya untuk membayar, jelaslah ia bukan anak kaya. Berlembar-lembar uang ribuan dan lima ribuan ia genggam dan hitung satu per satu.