Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis. Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?” Maka berkata anak kecil itu, “Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum” yang bermaksud, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.”
Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts
Monday, April 2, 2012
Tuesday, November 15, 2011
Sahabat, Berhentilah Merokok...
Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Siapa yang meniliti dengan baik kalam ulama, pasti akan menemukan bahwa hukum rokok itu haram, demikian menurut pendapat para ulama madzhab. Hanya pendapat sebagian kyai saja (-maaf- yang barangkali doyan rokok) yang tidak berani mengharamkan sehingga ujung-ujungnya mengatakan makruh atau ada yang mengatakan mubah. Padahal jika kita meneliti lebih jauh, ulama madzhab tidak pernah mengatakan demikian, termasuk ulama madzhab panutan di negeri kita yaitu ulama Syafi’iyah.
Ulama Syafi’iyah seperti Ibnu ‘Alaan dalam kitab Syarh Riyadhis Sholihin dan Al Adzkar serta buku beliau lainnya menjelaskan akan haramnya rokok. Begitu pula ulama Syafi’iyah yang mengharamkan adalah Asy Syaikh ‘Abdur Rahim Al Ghozi, Ibrahim bin Jam’an serta ulama Syafi’iyah lainnya mengharamkan rokok.
Ulama Syafi’iyah seperti Ibnu ‘Alaan dalam kitab Syarh Riyadhis Sholihin dan Al Adzkar serta buku beliau lainnya menjelaskan akan haramnya rokok. Begitu pula ulama Syafi’iyah yang mengharamkan adalah Asy Syaikh ‘Abdur Rahim Al Ghozi, Ibrahim bin Jam’an serta ulama Syafi’iyah lainnya mengharamkan rokok.
Friday, November 11, 2011
Kisah Inspirasi: Sartono
Nama di atas mungkin sudah demikian akrab di telinga kita. Salah satu nama Jawa tulen yang pasaran alias banyak kembarannya dimana-mana. Cirinya adalah nama yang singkat, jelas namun sarat dengan makna mendalam.
"Pak Sartono" begitulah MC memanggil nama beliau pada saat sesi pemberian penghargaan oleh Rektor dalam rangkaian acara Dies Natalis ITS Surabaya yang ke-51 hari Kamis kemarin. Beliau dinilai sangat berjasa atas sumbangsihnya dalam menciptakan lagu Hymne Guru. Sebuah lagu wajib yang sering kita dengar pada saat wisuda sekolah.
"Pak Sartono" begitulah MC memanggil nama beliau pada saat sesi pemberian penghargaan oleh Rektor dalam rangkaian acara Dies Natalis ITS Surabaya yang ke-51 hari Kamis kemarin. Beliau dinilai sangat berjasa atas sumbangsihnya dalam menciptakan lagu Hymne Guru. Sebuah lagu wajib yang sering kita dengar pada saat wisuda sekolah.
Wednesday, November 9, 2011
Kisah Inspirasi: Dikin
Nama panggilannya Dikin, sebagaimana tertulis samar-samar di rombong warna biru di depan SDN Medokan Ayu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan dukun (karena hanya beda vokal). Nama lengkapnya saya kurang tahu. Mungkin Sodikin, mungkin pula Sidikin atau bahkan yang lain. Sodikin, dan Sidikin dalam bahasa Al Qur'an berarti orang yang benar.
Saya pertama kali kenal Dikin sekitar 6 tahun yang lalu, saat masih tinggal di perumahan Griya Pesona Asri. Usianya mungkin sudah seumuran anak SMA sekarang. Maklum, waktu itu perumahan GPA masih baru dibangun di wilayah Medokan Ayu, belum ada fasilitas tempat ibadah karena penghuninya masih segelintir orang. Sehingga untuk sholat berjamaah maghrib, isya dan shubuh saya harus menuju masjid/ musholla di kampung sekitar dengan mengendarai sepeda motor.
Saya pertama kali kenal Dikin sekitar 6 tahun yang lalu, saat masih tinggal di perumahan Griya Pesona Asri. Usianya mungkin sudah seumuran anak SMA sekarang. Maklum, waktu itu perumahan GPA masih baru dibangun di wilayah Medokan Ayu, belum ada fasilitas tempat ibadah karena penghuninya masih segelintir orang. Sehingga untuk sholat berjamaah maghrib, isya dan shubuh saya harus menuju masjid/ musholla di kampung sekitar dengan mengendarai sepeda motor.
Monday, November 7, 2011
Kisah Inspirasi: Suami Istri dan Rusa
Sabtu kemarin saya beserta keluarga meluangkan waktu untuk rekreasi murah meriah di Kebun Bibit Surabaya. Kami berangkat sekitar jam 6 pagi dari rumah mengendarai sepeda motor. Rencananya, mampir ke pasar, beli bubur buat sarapannya Gaza dan Nadia juga beli kacang panjang untuk diberikan rusa-rusa yang ada disana dan tak lupa beli pisau dan tatakan kayu buat persiapan Idul Qurban esok hari.
Dari luar pagar, tampak beberapa site di kebun bibit sudah dipenuhi anak-anak dengan segala aktivitasnya. Ada yang berseragam Pramuka, ada pula yang berseragam olah raga. Dan memang, di tempat parkir dalam terlihat deretab sepeda mini yang tersusun rapi.
Dari luar pagar, tampak beberapa site di kebun bibit sudah dipenuhi anak-anak dengan segala aktivitasnya. Ada yang berseragam Pramuka, ada pula yang berseragam olah raga. Dan memang, di tempat parkir dalam terlihat deretab sepeda mini yang tersusun rapi.
Saturday, November 5, 2011
Kisah Inspirasi: Qurban Bu Sumi
Setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sdg memperhatikan dagangan kami, Dilihat dari penampilannya sepertinya gak akan beli.Namun saya coba hampiri dan menawarkan. “Silahkan bu. Ibu itu menunjuk, “Kalau yg itu berapa bang?” Ibu itu menunjuk hewan yg paling murah.
Kalau yg itu harganya 600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?, 500rb deh. harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. “Uang saya Cuma ada 450rb, boleh gak”. Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. “Biarlah..”
Kalau yg itu harganya 600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?, 500rb deh. harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. “Uang saya Cuma ada 450rb, boleh gak”. Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. “Biarlah..”
Friday, November 4, 2011
Kisah Inspirasi: Seorang Ibu dan Sebotol Guinness
Jarum jam dinding sudah mendekati pukul 00 dini hari. Hari itu selepas mengikuti sebuah pengajian saya mampir ke sebuah gerai minimarket di pinggir jalan dalam perjalanan menuju rumah. Dua botol minuman dingin saya pilih untuk mengusir dahaga di malam yang gerah, sekaligus oleh-oleh untuk keluarga yang di rumah.
Saat petugas kasir sedang menghitung total belanja saya, masuklaj seorang ibu separuh baya ke toko. Tampilannya jauh dari disebut orang kaya, lebih cocok dengan sebutan pribumi kumus-kumus dalam bungkusan daster yang sudah lusuh. Dari raut wajahnya bisa saya simpulkan kalau usianya sudah mencapai akhir 30-an. Di kala malam sudah larut waktu itu, ia masih berupaya tampil cantik. Terlihat dari bedak tebal yang melapisi kulit wajahnya dan goresan gincu merah di bibirnya. Batin saya, "Agak mekso ini orang" :)
Saat petugas kasir sedang menghitung total belanja saya, masuklaj seorang ibu separuh baya ke toko. Tampilannya jauh dari disebut orang kaya, lebih cocok dengan sebutan pribumi kumus-kumus dalam bungkusan daster yang sudah lusuh. Dari raut wajahnya bisa saya simpulkan kalau usianya sudah mencapai akhir 30-an. Di kala malam sudah larut waktu itu, ia masih berupaya tampil cantik. Terlihat dari bedak tebal yang melapisi kulit wajahnya dan goresan gincu merah di bibirnya. Batin saya, "Agak mekso ini orang" :)
Tuesday, November 1, 2011
Kisah Inspirasi: Sebiji Mangga Golek
Malam itu kebetulan ada waktu bagi saya untuk mengajak istri keluar. Ngisis di saat rasa sumuk memenuhi isi rumah saat gelap tiba. Karena stok buah-buahan sudah habis di meja makan, maka kami putuskan membeli mangga. Bukan shopping ke mall yang full AC, tapi cukup ke warung penjual buah dekat rumah :)
Setibanya di warung saya langsung mengambil tas kresek plastik dan segera memilih satu demi satu mangga yang masak dan bagus bentuknya. Sampai akhirnya terkumpul 6 buah mangga dengan total berat 2 kilogram. "Sudah cukup", batin saya. Langsung saya bayarkan uang 12 ribu rupiah ke pemilik warung dengan sangat ringan dan tanpa berpikir panjang untuk menawar. "Toh cuma 12 ribu. Murah. Uang transport sehari di kantor saja masih kembali (susuk)".
Setibanya di warung saya langsung mengambil tas kresek plastik dan segera memilih satu demi satu mangga yang masak dan bagus bentuknya. Sampai akhirnya terkumpul 6 buah mangga dengan total berat 2 kilogram. "Sudah cukup", batin saya. Langsung saya bayarkan uang 12 ribu rupiah ke pemilik warung dengan sangat ringan dan tanpa berpikir panjang untuk menawar. "Toh cuma 12 ribu. Murah. Uang transport sehari di kantor saja masih kembali (susuk)".
Wednesday, October 26, 2011
Kisah Inspirasi: Mandor dan Pekerjanya
Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerja nya yang lagi bekerja dibawah. Setelah sang mandor bekerja berkali - kaliberteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan.
Si mandor trus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja. Si pekerja hanya memungut uang rp. 1000 tadi dan melanjutkan pekerjaannya.
Si mandor akhirnya melempar uang 100000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Akan tetapi si pekerja hanya melompat kegirangan karena menemukan uang 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor, melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.
Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita. Allah SWT selalu ingin menyapa kita... akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur. Bahkan lebih sering kita tidak mau tau darimana rejeki itu datangnya...bahkan kita selalu bilang... kita lagi "HOKI" yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH SWT. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "Batu Kecil" yang kita sebut MUSIBAH, agar kita mau menoleh kepada ALLAH SWT...
thanks to didit liqomm :)
Si mandor trus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja. Si pekerja hanya memungut uang rp. 1000 tadi dan melanjutkan pekerjaannya.
Si mandor akhirnya melempar uang 100000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Akan tetapi si pekerja hanya melompat kegirangan karena menemukan uang 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor, melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.
Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita. Allah SWT selalu ingin menyapa kita... akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur. Bahkan lebih sering kita tidak mau tau darimana rejeki itu datangnya...bahkan kita selalu bilang... kita lagi "HOKI" yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH SWT. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "Batu Kecil" yang kita sebut MUSIBAH, agar kita mau menoleh kepada ALLAH SWT...
thanks to didit liqomm :)
Monday, October 17, 2011
Video Klip Raihan: Mengemis Kasih
This video is dedicated to they who are falling in love. No matter old or young. May Alloh SWT Lead us to the right love as it written in Al Qur'an and Sunnah Rasulillah. InsyaAlloh...
Katakanlah,”Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)
Katakanlah,”Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)
Monday, October 10, 2011
Kisah Inspirasi: Tentang Allah, Takdir dan Api Neraka
Entah terjadi atau tidak, yang jelas kisah ini pernah dimuat di salah satu majalah Islam. Kisah ini bercerita tentang pemuda yang otaknya tercuci ketika sedang studi di Barat. Ketika pulang ke Indonesia, ada 3 pertanyaan yang menjejali otaknya, dan belum ada jawaban yang memuaskan. 3 pertanyaan itu adalah, pertama : “Allah itu ada atau tidak? Kalau ada apa buktinya?” kedua : “Apa itu takdir?” ketiga : “Kenapa di akherat kelak, siksanya berupa api. Bukankah Iblis diciptakan dari api juga. Masak, makhluk yang tercipta dari api juga disiksa dengan api?”
Karena ayah-ibunya juga tidak bisa menjawab pertanyaan ‘aneh’ dari anaknya, mereka berdua mendatangkan seorang ustadz. Singkat cerita, ketika sampai ke rumah yang di maksud, si ustadz menemukan sesosok pemuda tanggung yang konon, berdasarkan cerita orangtuanya, menjadi liberal. Si ustadz berucap salam, dan berusaha tersenyum ramah kepada si pemuda.
Setelah berbasa-basi sekedarnya, pemuda itu mempertanyakan tiga pertanyaan tersebut diatas; tentang keberadaan Allah, takdir, dan makhluk tercipta dari api yang disiksa dengan api; karena ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tahu apa jawab ustadz itu? Tanyanya hanya berbalaskan tamparan keras. Tepat dimukanya. Dan ia mengaduh kesakitan.
Pemuda itu terbengong dan bertanya, “Kenapa ustadz menampar saya?”
“Itulah jawaban saya atas semua tanyamu?” jawab ustadz mantap.
“Maksudnya?”
“Ketiga pertanyaan yang kamu tanyakan sudah saya jawab. Begini analogi berfikirnya. Sekarang saya bertanya kepada anda; apa yang anda rasakan?”
“Sakit.”
“Apakah anda yakin sakit itu ada?”
“Ya, ada.”
“Kenapa anda berkeyakinan bahwa sakit itu ada. Apa buktinya?”
“Sakit ada, tetapi tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi bisa dirasakan.”
“Wa lillahil matsalu l-a’la, Allah memiliki permisalan yang lebih agung. Begitu juga dengan Allah. Dia itu ada, hanya saja kita tidak bisa melihat-Nya. Tetapi kita yakin bahwa Dia ada. Kita tahu itu dari Rasul-Nya yang diberi mukjizat berupa al Qur’an. Bukti keberadaan Allah adalah ayat kauniyah dan Qur’aniyah-Nya.” “Ini adalah jawaban pertanyaan pertama.”
“Terus, yang kedua; apa itu takdir?”
“Sekarang saya balik bertanya, apakah saudara tahu bahwa kedatangan saya ke sini ternyata berjawabkan tamparan di muka saudara?”
“Tidak.”
“Nah, itulah takdir. Takdir adalah rahasia Allah yang tidak bisa kita ketahui kecuali setelah terjadi.”
“Untuk pertanyaan yang ketiga?”
“Tahukah anda, tangan saya berasal dari apa?”
“Kulit.”
“Trus, pipi anda?”
“Dari kulit juga.”
“Kenapa anda merasakan sakit padahal kulit bertemu dengan kulit. Kalau di dunia saja sesuatu yang sama akan merasakan sakit ketika dipertemukan, lantas begitu juga dengan Iblis dan jin kafir, sekalipun mereka tercipta dari api, mereka akan merasakan siksa berupa api neraka dengan kehendak Allah Ta’ala.”
Pemuda itu terdiam, dan tidak berkutik. Baru kali itu, ia mendapatkan jawaban yang membungkam mulutnya. Wallahu A’lam.
Sumber: http://ibnuabdulbari.multiply.com/journal/item/19?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Karena ayah-ibunya juga tidak bisa menjawab pertanyaan ‘aneh’ dari anaknya, mereka berdua mendatangkan seorang ustadz. Singkat cerita, ketika sampai ke rumah yang di maksud, si ustadz menemukan sesosok pemuda tanggung yang konon, berdasarkan cerita orangtuanya, menjadi liberal. Si ustadz berucap salam, dan berusaha tersenyum ramah kepada si pemuda.
Setelah berbasa-basi sekedarnya, pemuda itu mempertanyakan tiga pertanyaan tersebut diatas; tentang keberadaan Allah, takdir, dan makhluk tercipta dari api yang disiksa dengan api; karena ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tahu apa jawab ustadz itu? Tanyanya hanya berbalaskan tamparan keras. Tepat dimukanya. Dan ia mengaduh kesakitan.
Pemuda itu terbengong dan bertanya, “Kenapa ustadz menampar saya?”
“Itulah jawaban saya atas semua tanyamu?” jawab ustadz mantap.
“Maksudnya?”
“Ketiga pertanyaan yang kamu tanyakan sudah saya jawab. Begini analogi berfikirnya. Sekarang saya bertanya kepada anda; apa yang anda rasakan?”
“Sakit.”
“Apakah anda yakin sakit itu ada?”
“Ya, ada.”
“Kenapa anda berkeyakinan bahwa sakit itu ada. Apa buktinya?”
“Sakit ada, tetapi tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi bisa dirasakan.”
“Wa lillahil matsalu l-a’la, Allah memiliki permisalan yang lebih agung. Begitu juga dengan Allah. Dia itu ada, hanya saja kita tidak bisa melihat-Nya. Tetapi kita yakin bahwa Dia ada. Kita tahu itu dari Rasul-Nya yang diberi mukjizat berupa al Qur’an. Bukti keberadaan Allah adalah ayat kauniyah dan Qur’aniyah-Nya.” “Ini adalah jawaban pertanyaan pertama.”
“Terus, yang kedua; apa itu takdir?”
“Sekarang saya balik bertanya, apakah saudara tahu bahwa kedatangan saya ke sini ternyata berjawabkan tamparan di muka saudara?”
“Tidak.”
“Nah, itulah takdir. Takdir adalah rahasia Allah yang tidak bisa kita ketahui kecuali setelah terjadi.”
“Untuk pertanyaan yang ketiga?”
“Tahukah anda, tangan saya berasal dari apa?”
“Kulit.”
“Trus, pipi anda?”
“Dari kulit juga.”
“Kenapa anda merasakan sakit padahal kulit bertemu dengan kulit. Kalau di dunia saja sesuatu yang sama akan merasakan sakit ketika dipertemukan, lantas begitu juga dengan Iblis dan jin kafir, sekalipun mereka tercipta dari api, mereka akan merasakan siksa berupa api neraka dengan kehendak Allah Ta’ala.”
Pemuda itu terdiam, dan tidak berkutik. Baru kali itu, ia mendapatkan jawaban yang membungkam mulutnya. Wallahu A’lam.
Sumber: http://ibnuabdulbari.multiply.com/journal/item/19?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Wednesday, October 5, 2011
Kisah Inspirasi: Tuhan Menciptakan Kejahatan?
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah : Albert Einstein.
Sumber: http://www.i-bego.com/diskusi-umum/sharing-bahan-renungan-buat-semua-t1037.html
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah : Albert Einstein.
Sumber: http://www.i-bego.com/diskusi-umum/sharing-bahan-renungan-buat-semua-t1037.html
Monday, August 8, 2011
Keutamaan Zakat
Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Zakat secara harfiah zakat berarti “tumbuh”, “berkembang”, “menyucikan”, atau “membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an. Zakat juga merupakan salah satu Rukun Islam.
So, Bapak/Ibu/Saudara yang berniat berzakat/infak di bulan Ramadhan ini dapat saya bantu menyalurkannya melalui Lembaga Manajemen Infak (www.lmizakat.org). Ramadhan tahun ini alhamdulillah saya (bluejundi@yahoo.com/ 081230544039) kembali menjadi relawannya. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Semoga harta kita menjadi harta yang barokah di dunia maupun di akherat :).
So, Bapak/Ibu/Saudara yang berniat berzakat/infak di bulan Ramadhan ini dapat saya bantu menyalurkannya melalui Lembaga Manajemen Infak (www.lmizakat.org). Ramadhan tahun ini alhamdulillah saya (bluejundi@yahoo.com/ 081230544039) kembali menjadi relawannya. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Semoga harta kita menjadi harta yang barokah di dunia maupun di akherat :).
Tuesday, July 12, 2011
Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan
“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)
Oleh: Mochamad Bugi
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/khutbah-rasulullah-menyambut-ramadhan/
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)
Oleh: Mochamad Bugi
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/khutbah-rasulullah-menyambut-ramadhan/
Wednesday, June 22, 2011
Isro' Mi'roj: Pelipur Lara Nabi SAW?
Oleh: Musyafa Ahmad Rahim, Lc
Tersebutlah dalam sirah Nabawiyah bahwa Rasulullah SAW ditinggal mati oleh dua orang; Khadijah -radhiyallahu ‘anha- dan Abu Thalib. Padahal, selama ini dua orang tersebut telah berperan besar bagi dakwah Islamiyah.
1. Ummul Mukminin Khadijah -radhiyallahu ‘anha- , sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits, adalah:
- Wanita dan bahkan manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.
- Seorang mukmin yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah, dan
- Seorang istri, yang darinya Rasulullah SAW mempunyai anak (keturunan).
2. Abu Thalib, meskipun belum beriman, namun, mengingat posisinya sebagai paman Rasulullah SAW, ia telah membela Rasulullah SAW dengan sangat luar biasa.
Namun, di tahun itu, keduanya meninggal dunia, maka beliau SAW sangat bersedih, dan karenanya, tahun itu disebut ‘amul huzni (tahun kesedihan). Kesedihan itu semakin lengkap, manakala Rasulullah SAW mencoba membuka jalur dakwah baru, Thaif. Siapa tahu, Thaif yang sejuk, dingin, hijau, mempunyai pengaruh besar terhadap warganya, sehingga sikap mereka barangkali sejuk dan segar dalam menerima dakwah beliau SAW. Tidak seperti Mekah (saat itu) yang keras, semuanya tertutup batu, sehingga “membatu” sikap mereka terhadap dakwah. Namun, bukannya kedatangan Rasulullah SAW di Thaif disambut, tapi malah disambit.
Singkat cerita, dalam perjalanan pulang ke Mekah, terjadi tiga peristiwa:
1. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang bernama Adas, dari Nainuwa, kampung halaman nabi Yunus AS. Dalam pertemuan itu, Adas menyatakan masuk Islam. Hal ini seakan mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Jangan bersedih wahai Muhammad, kalau orang Mekah, orang Arab tidak mau beriman, jangan bersedih, nih buktinya, orang Nainuwa mau beriman”.
2. Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok jin, dan saat dibacakan Al-Qur’an kepada mereka, mereka menyatakan beriman. Hal ini seakan memberi message kepada Rasulullah SAW: “Seandainya pun seluruh manusia tidak mau beriman, engkau pun tidak peru bersedih wahai Muhammad SAW, sebab, bangsa jin telah membuktikan bahwa mereka siap beriman kepadamu”.
3. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Hal ini seakan berkata kepada Rasulullah SAW: “Bahkan, seandainya pun seluruh penghuni bumi, baik manusia maupun jin, tidak mau beriman kepadamu wahai Muhammad, engkau pun tidak perlu bersedih, sebab, buktinya, masyarakat langit semuanya gegap gempita menyambut kedatanganmu”.
Dari sudut pandang ini, peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan tasliyah (pelipur lara) yang sangat luar biasa bagi Rasulullah SAW.
Lalu apa pelipur lara kita?
Mestinya adalah shalat, sebab oleh-oleh Isra’ dan Mi’raj utamanya adalah shalat, dan Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai qurratu ‘ain dan sekaligus rahah (rehat). Wallahu a’lam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/06/12794/latar-belakang-isra-dan-miraj/
Tersebutlah dalam sirah Nabawiyah bahwa Rasulullah SAW ditinggal mati oleh dua orang; Khadijah -radhiyallahu ‘anha- dan Abu Thalib. Padahal, selama ini dua orang tersebut telah berperan besar bagi dakwah Islamiyah.
1. Ummul Mukminin Khadijah -radhiyallahu ‘anha- , sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits, adalah:
- Wanita dan bahkan manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.
- Seorang mukmin yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah, dan
- Seorang istri, yang darinya Rasulullah SAW mempunyai anak (keturunan).
2. Abu Thalib, meskipun belum beriman, namun, mengingat posisinya sebagai paman Rasulullah SAW, ia telah membela Rasulullah SAW dengan sangat luar biasa.
Namun, di tahun itu, keduanya meninggal dunia, maka beliau SAW sangat bersedih, dan karenanya, tahun itu disebut ‘amul huzni (tahun kesedihan). Kesedihan itu semakin lengkap, manakala Rasulullah SAW mencoba membuka jalur dakwah baru, Thaif. Siapa tahu, Thaif yang sejuk, dingin, hijau, mempunyai pengaruh besar terhadap warganya, sehingga sikap mereka barangkali sejuk dan segar dalam menerima dakwah beliau SAW. Tidak seperti Mekah (saat itu) yang keras, semuanya tertutup batu, sehingga “membatu” sikap mereka terhadap dakwah. Namun, bukannya kedatangan Rasulullah SAW di Thaif disambut, tapi malah disambit.
Singkat cerita, dalam perjalanan pulang ke Mekah, terjadi tiga peristiwa:
1. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang bernama Adas, dari Nainuwa, kampung halaman nabi Yunus AS. Dalam pertemuan itu, Adas menyatakan masuk Islam. Hal ini seakan mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Jangan bersedih wahai Muhammad, kalau orang Mekah, orang Arab tidak mau beriman, jangan bersedih, nih buktinya, orang Nainuwa mau beriman”.
2. Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok jin, dan saat dibacakan Al-Qur’an kepada mereka, mereka menyatakan beriman. Hal ini seakan memberi message kepada Rasulullah SAW: “Seandainya pun seluruh manusia tidak mau beriman, engkau pun tidak peru bersedih wahai Muhammad SAW, sebab, bangsa jin telah membuktikan bahwa mereka siap beriman kepadamu”.
3. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Hal ini seakan berkata kepada Rasulullah SAW: “Bahkan, seandainya pun seluruh penghuni bumi, baik manusia maupun jin, tidak mau beriman kepadamu wahai Muhammad, engkau pun tidak perlu bersedih, sebab, buktinya, masyarakat langit semuanya gegap gempita menyambut kedatanganmu”.
Dari sudut pandang ini, peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan tasliyah (pelipur lara) yang sangat luar biasa bagi Rasulullah SAW.
Lalu apa pelipur lara kita?
Mestinya adalah shalat, sebab oleh-oleh Isra’ dan Mi’raj utamanya adalah shalat, dan Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai qurratu ‘ain dan sekaligus rahah (rehat). Wallahu a’lam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/06/12794/latar-belakang-isra-dan-miraj/
Wednesday, June 15, 2011
Pengajian PKS Digerebek!
Mencuatnya kasus isu NII (Negara Islam Indonesia) dan pengusung Ideologi Khilafah, membuat masyarakat phobia dengan berbagai pengajian Islam. Hal inilah yang menjadikan beberapa masyarakat semakin waspada terhadap orang-orang yang melakukan pengajian Islam. Tak terkecuali di kota Mojokerto, Jawa Timur.
Namun terdapat peristiwa yang menggelikan terjadi di Mojokerto beberapa waktu lalu. Sebagaimana biasanya, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mewajibkan kadernya untuk membuat pengajian pekanan bergantian di rumah setiap kader, dengan membahas keimanan, dunia Islam dan rencana program kerja kegiatan PKS di masing-masing daerah, kecamatan hingga desa. Hingga harus dicurigai sebagai pengajian NII.
Ketika pengajian sedang masuk tilawah Al Quran (pembacaan Al Quran) beberapa warga langsung berdatangan dengan membawa TNI, Polri dan SatPol PP. Beberapa orang terlihat sedikit emosi ketika berdialog dengan salah satu ustadz PKS yang tengah mencoba menenangkan massa dengan sabar. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, beberapa Polisi dan TNI mencoba untuk meredakan ketegangan tersebut.
Di sinilah peristiwa yang sedikit membuat kita tersenyum.
Ketika seorang anggota Polisi mencoba untuk melerai massa yang sedang emosi, tiba-tiba “Loh… Sampeyan ada di sini mas?” kata anggota polisi tersebut sedikit kaget. Tidak disangka, anggota polisi tersebut mengenal ustadz PKS tersebut, karena mereka teman bermain saat masih kecil.
Tetapi yang tidak kalah lucunya beberapa anggota TNI kaget “Loh, sampean ada di sini?” ucap salah satu anggota TNI. Ternyata tidak disangka ustadz PKS tersebut adalah senior yang mengajar Karate para TNI.
Anehnya, beberapa anggota Satpol PP malah lari. Karena para anggota Satpol PP tidak tahu bahwa pengajian yang akan digerebeknya ternyata diisi oleh ustadz PKS yang juga salah satu anggota dewan di Mojokerto.
Setelah emosi para warga sudah mulai mereda, ustadz PKS yang juga salah satu anggota dewan tersebut memberikan informasi mengenai pengajian wajib yang harus diikuti oleh setiap kader PKS untuk menambah keilmuan agama dan mendapatkan berbagai informasi-informasi, baik keputusan partai dan kegiatan partai.
Terlihat beberapa warga malu, karena ternyata pengajian yang mereka kira pengajian NII malah diisi langsung oleh anggota dewan, bahkan mereka ada yang kagum karena ada anggota dewan yang langsung ”turun-gunung” mengisi pengajian di rumah salah seorang kader partainya. Usut punya usut… ternyata orang-orang yang membuat isu pengajian tersebut adalah pengajian NII lantaran dari beberapa orang yang sakit hati terhadap salah satu kader PKS yang rumahnya ditempati untuk pengajian tersebut. Dan salah satunya juga adalah anggota Satpol PP yang ikut melarikan diri bersama teman-temannya yang lain. Salah satu warga berkata ”Lha nek saget, warga nggeh diajak ngaji bareng ustadz. Nggeh jarang-jarang teng mriki wonten anggota dewan seng marani. Opomaneh maringi ceramah agama, jarang teng mriki! ” (Kalau bisa, warga juga diajak ngaji bersama ustadz. Yah jarang-jarang di sini ada anggota dewan yang datangi. Apalagi memberikan ceramah agama, jarang di sini).
Ustadz PKS tersebut langsung merespon dengan baik usulan warga, dengan siap untuk mengadakan pengajian bersama warga. (sn/fimadani.com)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/06/12697/pengajian-pks-digerebek/
Namun terdapat peristiwa yang menggelikan terjadi di Mojokerto beberapa waktu lalu. Sebagaimana biasanya, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mewajibkan kadernya untuk membuat pengajian pekanan bergantian di rumah setiap kader, dengan membahas keimanan, dunia Islam dan rencana program kerja kegiatan PKS di masing-masing daerah, kecamatan hingga desa. Hingga harus dicurigai sebagai pengajian NII.
Ketika pengajian sedang masuk tilawah Al Quran (pembacaan Al Quran) beberapa warga langsung berdatangan dengan membawa TNI, Polri dan SatPol PP. Beberapa orang terlihat sedikit emosi ketika berdialog dengan salah satu ustadz PKS yang tengah mencoba menenangkan massa dengan sabar. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, beberapa Polisi dan TNI mencoba untuk meredakan ketegangan tersebut.
Di sinilah peristiwa yang sedikit membuat kita tersenyum.
Ketika seorang anggota Polisi mencoba untuk melerai massa yang sedang emosi, tiba-tiba “Loh… Sampeyan ada di sini mas?” kata anggota polisi tersebut sedikit kaget. Tidak disangka, anggota polisi tersebut mengenal ustadz PKS tersebut, karena mereka teman bermain saat masih kecil.
Tetapi yang tidak kalah lucunya beberapa anggota TNI kaget “Loh, sampean ada di sini?” ucap salah satu anggota TNI. Ternyata tidak disangka ustadz PKS tersebut adalah senior yang mengajar Karate para TNI.
Anehnya, beberapa anggota Satpol PP malah lari. Karena para anggota Satpol PP tidak tahu bahwa pengajian yang akan digerebeknya ternyata diisi oleh ustadz PKS yang juga salah satu anggota dewan di Mojokerto.
Setelah emosi para warga sudah mulai mereda, ustadz PKS yang juga salah satu anggota dewan tersebut memberikan informasi mengenai pengajian wajib yang harus diikuti oleh setiap kader PKS untuk menambah keilmuan agama dan mendapatkan berbagai informasi-informasi, baik keputusan partai dan kegiatan partai.
Terlihat beberapa warga malu, karena ternyata pengajian yang mereka kira pengajian NII malah diisi langsung oleh anggota dewan, bahkan mereka ada yang kagum karena ada anggota dewan yang langsung ”turun-gunung” mengisi pengajian di rumah salah seorang kader partainya. Usut punya usut… ternyata orang-orang yang membuat isu pengajian tersebut adalah pengajian NII lantaran dari beberapa orang yang sakit hati terhadap salah satu kader PKS yang rumahnya ditempati untuk pengajian tersebut. Dan salah satunya juga adalah anggota Satpol PP yang ikut melarikan diri bersama teman-temannya yang lain. Salah satu warga berkata ”Lha nek saget, warga nggeh diajak ngaji bareng ustadz. Nggeh jarang-jarang teng mriki wonten anggota dewan seng marani. Opomaneh maringi ceramah agama, jarang teng mriki! ” (Kalau bisa, warga juga diajak ngaji bersama ustadz. Yah jarang-jarang di sini ada anggota dewan yang datangi. Apalagi memberikan ceramah agama, jarang di sini).
Ustadz PKS tersebut langsung merespon dengan baik usulan warga, dengan siap untuk mengadakan pengajian bersama warga. (sn/fimadani.com)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/06/12697/pengajian-pks-digerebek/
Tuesday, June 7, 2011
Membentengi Rumah Tangga dari Setan
Sembilan benteng telah kami sebutkan guna mengupayakan terjaganya rumah dari musuh yang terkutuk. Berikut ini kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya sebagai akhir dari pembahasan ini:
Ucapan yang baik dan wajah yang cerah
Setan pasti punya ambisi untuk menghancurkan masyarakat Islam hingga ia membuat rencana, makar dan tipu daya. Di antara rencana yang diprogramkannya adalah menggoyahkan pondasi rumah tangga keluarga muslim, di mana rumah tangga ini merupakan batu bata awal dalam bangunan sebuah masyarakat. Sebagaimana telah kita ketahui dari hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata, “Rasulullah n bersabda:
إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)
Dengan terpisahnya pasangan suami istri niscaya pada akhirnya akan hancur pondasi suatu masyarakat. Hancurnya masyarakat manusia inilah yang didambakan oleh si musuh besar anak manusia.
Mengingat akan hal ini dan yang lainnya, maka sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, karena Allah k telah memerintahkan:
“Dan bergaullah kalian (para suami) terhadap mereka (para istri) dengan baik.” (An-Nisa: 19)
Suami selaku qawwam[1] dalam sebuah keluarga semestinya memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada istrinya, sehingga setan tidak memancing di air keruh dalam hubungan dia dengan istrinya. Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:
Katakanlah (ya Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaknyalah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Isra’: 53)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya dan Rasul-Nya n, untuk menyuruh hamba-hamba Allah yang beriman agar berbicara dan bercakap-cakap menggunakan perkataan-perkataan yang paling baik dan kalimat-kalimat thayyibah/bagus. Karena bila mereka tidak melakukan hal tersebut, niscaya setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan meningkatkan ucapan kepada perbuatan/tindakan. Hingga terjadilah kejelekan, pertikaian dan perkelahian. Karena setan, musuh Adam dan anak turunan Adam sejak saat iblis (nenek moyang para setan) menolak untuk sujud kepada Adam, dan permusuhannya ini tampak nyata….” (Tafsir Al Qur’anil Azhim, 5/66)
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ini merupakan perintah untuk mengucapkan seluruh perkataan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur’an, berzikir, menyampaikan ilmu atau diskusi ilmiah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan kalimat-kalimat baik yang lembut terhadap sesama makhluk dengan perbedaan martabat dan kedudukan mereka. Bila beredar suatu perkara di antara dua perkara yang baik, maka kita diperintah untuk mengutamakan yang paling baik di antara keduanya, jika memang tidak mungkin keduanya disatukan atau dikumpulkan.
Perkataan yang baik akan mengajak kepada seluruh akhlak yang indah dan amal yang shalih. Karena siapa yang dapat menguasai lisannya niscaya ia dapat menguasai seluruh perkaranya.
Firman Allah:
“Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”, yaitu setan mengupayakan perkara yang dapat merusak agama dan dunia mereka. Maka obat dari hal ini adalah mereka tidak menaati setan yang mengajak mereka agar mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik. Bahkan hendaknya mereka bersikap lunak di antara sesama mereka agar mematahkan setan yang ingin menimbulkan perselisihan di antara mereka. Karena setan adalah musuh mereka yang hakiki, hingga pantaslah mereka memeranginya. Apatah lagi si musuh ingin mengajak mereka, agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.
Karena setan ini terus berupaya menimbulkan perselisihan di antara mereka dan permusuhan, maka yang seharusnya dan semestinya mereka lakukan adalah berupaya melawan musuh mereka dan mematahkan jiwa-jiwa mereka yang memerintahkan kepada kejelekan, di mana setan masuk dari arah tersebut. Dengan begitu, berarti mereka menaati Rabb mereka. Akan luruslah perkara mereka, dan mereka akan terbimbing kepada kebenaran/kelurusan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 460)
Kata-kata yang baik akan melapangkan dada, melanggengkan pergaulan, menebarkan kebahagiaan di antara suami istri, mewujudkan ketenangan yang diharapkan dari diciptakannya para istri untuk para lelaki, memperkuat unsur-unsur mawaddah/ cinta dan menyuburkan rahmah/kasih sayang di antara suami istri. Allah l berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup/istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)
Bayangkanlah keadaan sebuah rumah tangga di mana sang suami suka berkata kasar kepada istrinya, menghardik dan membentak. Atau ia suka mengungkit apa yang telah diberikannya kepada istrinya, seperti mengatakan, “Aku yang capek cari duit. Kamu enak aja tinggal pakai. Makanya harus tahu diri, jangan seenaknya menggunakan duitku! “
Kalimat seperti ini tentunya melukai seorang istri, walaupun memang dalam kenyataannya si suami yang mencari nafkah dan uang yang ada dalam rumah adalah miliknya. Kalau tujuan si suami hendak menegur istrinya dalam hal pengaturan belanja rumah tangga, maka suami yang cerdas tentunya tidak akan mengungkapkannya dengan kalimat yang dapat menorehkan luka di dada istrinya.
Lalu apa persangkaan kita terhadap si suami bila ia suka mengucapkan kalimat demikian, padahal istrinya telah berupaya hemat dalam membelanjakan uang yang diberikan suaminya dan berlaku amanah terhadap harta suaminya? Tidak lain karena lisannya yang memang buruk dan tidak pandai bergaul baik dengan istrinya. Kepada suami yang demikian, hendaklah ia menyadari keburukan lisannya. Jangan terus menyakiti istrinya. Waspadalah dari kehancuran mahligai yang telah dibangun bersama istrinya, karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa setan bisa menyusup antara dia dan istrinya untuk menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Di sisi lain, seorang istri juga lebih utama dituntut untuk bertutur kata yang baik kepada suaminya dan penuh adab dalam menyampaikan ucapan, sehingga istri tidak mengangkat suaranya lebih dari suara suaminya.
Membentengi istri
Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash c mengabarkan sabda Rasulullah n:
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَليَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيرَهَا وَخَيرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّهَا وَمِن شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ؛ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأخُذ بِذَرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ.
قَالَ أَبو داود: زاد أبو سعيد: (
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia mengucapkan ; Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya. Apabila ia membeli seekor unta, hendaklah ia memegang puncak punuk untanya dan hendaknya ia mengucapkan doa semisal di atas.”
Abu Dawud berkata, “Abu Said menambahkan:
ثُمَّ لِيَأخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ باِلْبَرَكَةِ فِي الْمَرأَةِ وَالْخَادِمِ
“Kemudian hendaknya ia memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakan keberkahan pada istri atau si budak.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud)
Disenangi bagi seorang pengantin menunaikan shalat dua rakaat bersama istrinya saat ia masuk menemui istrinya sebagai upaya menjaga kehidupan rumah tangganya kelak dari setiap perkara yang tidak disenangi. Hal ini dinukilkan dari salaf. Salah satunya dari Syaqiq, ia berkata, “Datang seseorang bernama Abu Hariz. Ia mengabarkan, “Aku telah menikahi seorang gadis perawan yang masih muda dan aku khawatir ia akan membenciku.” Ibnu Mas’ud z berkata:
إِنَّ الْإِلْفَ مِنَ اللهِ وَالْفِرْكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، يُرِيدُ أَنْ يُكَرِهَّ إِلَيْكُمْ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُم. فَإِذَا أَتَتْكَ فَأْمُرْهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَينِ.
“Sesungguhnya kedekatan itu dari Allah dan kebencian itu dari setan. Setan ingin membuat kalian benci terhadap apa yang Allah halalkan kepada kalian. Maka bila engkau mendatangi istrimu, suruhlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.”
Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud ada tambahan:
وَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اللَّهُمَّّ اجْمَعْ بَينَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيرٍ
“Dan ucapkanlah: Ya Allah, berilah berkah untukku pada keluarga/isteriku dan berilah berkah untuk mereka pada diriku. Ya Allah, kumpulkanlah kami selama Engkau mengumpulkannya dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika memang Engkau memisahkannya kepada kebaikan. (HR. Ibnu Abu Syaibah dan Abdurrazzaq dalam Mushannafnya 6/191/10460-10461. Sanadnya shahih kata Al-Imam Al-Albani t. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabsrani, 3/21/2, dengan dua sanad yang shahih. Lihat Adabuz Zafaf hal. 96)
Menjaga anak dari gangguan setan
Seorang muslim semestinya menjaga zikir yang diucapkan ketika hendak berhubungan intim dengan istrinya. Karena dengan mengucapkan zikir yang demikian berarti ada upaya menjaga anak dari gangguan setan. Ibnu Abbas c menyampaikan dari Nabi n, sabda beliau, “Seandainya salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengucapkan:
بِسمِ اللهِ اللُّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيطاَنَ مَا رَزَقتَناَ؛ فَإِنْ قَضَى اللهُ بَينَهُمَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيطَانُ أَبَدًا
“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezkikan pada kami,” lalu Allah tetapkan lahirnya anak dari hubungan keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakan si anak selama-lamanya. (HR. Al-Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 3519)
Al-Qadhi Iyadh t berkata tentang bahaya yang disebutkan dalam hadits, “Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah setan tidak dapat merasuki anak yang lahir tersebut (terjaga dari kesurupan jin –pent.). Ada yang mengatakan setan tidak akan menusuk anak tersebut saat lahirnya sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang hal ini[2]. Tidak ada seorangpun yang membawa pengertian bahaya dalam hadits di atas kepada keumuman yang berupa penjagaan dari seluruh kemadaratan, was-was dan penyimpangan[3].” (Al-Ikmal, 4/610)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t menyebutkan adanya berbagai pendapat tentang maksud penjagaan si anak dari bahaya yang ditimbulkan setan seperti dinyatakan dalam hadits. Ada yang memaknakan, setan tidak apat menguasai si anak karena berkah tasmiyah(ucapan bismillah). Bahkan si anak termasuk dalam sejumlah hamba-hamba yang Allah nyatakan:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaanmu atas mereka (engkau tidak bisa menguasai mereka) terkecuali orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang sesat/menyimpang.” (Al-Hijr: 42)
Ada pula yang mengatakan setan tidak akan menusuk perut si anak. Namun pendapat ini jauh dari kebenaran, karena bertentangan dengan zahir hadits yang menyebutkan:
كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ
Ada yang berpendapat, setan tidak dapat membuatnya kesurupan. Ada pula yang berpandangan, setan tidak dapat membahayakan tubuh si anak. Ibnu Daqiqil ‘Id t berkata, “Dimungkinkan setan tidak dapat memadaratkan si anak pada agamanya juga.” Akan tetapi pendapat ini juga dipermasalahkan, karena tidak ada manusia yang maksum (terjaga dari dosa). Kata Ad-Dawudi tentang makna setan tidak akan memadaratkan si anak adalah, “Setan tidak dapat memfitnah si anak dari agamanya hingga ia keluar dari agamanya kepada kekafiran. Bukan maksudnya si anak terjaga dari berbuat maksiat.”
Ada pula yang berpandangan, setan tidak akan memadaratkan si anak dengan menyertai ayahnya menggauli ibunya, sebagaimana riwayat dari Mujahid, “Seorang lelaki yang berhubungan intim dengan istrinya dan ia tidak mengucapkan bismillah, setan akan meliliti saluran kencingnya lalu ikut menggauli istrinya bersamanya. Mungkin ini jawaban yang paling dekat. Dalam hadits ini ada beberapa faedah. Di antaranya, hadits ini mengisyaratkan setan itu terus menyertai anak Adam, tidak terusir darinya kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Fathul Bari, 9/285-286)
Menjaga anak dari hewan berbisa dan dari pandangan hasad
Anak kita yang masih kecil belum bisa membentengi dirinya sen
diri dengan zikir dan doa, termasuk tentunya zikir pagi dan petang yang dengannya Allah menjanjikan penjagaan bagi hamba yang mengamalkannya. Karenanya, kitalah sebagai orangtua yang membacakan doa perlindungan untuk si anak setiap pagi dan petang. Sambil mengusap kepalanya, kita berdoa:
أُعِيذُكُمْ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
“Aku melindungkan kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan[4], hewan berbisa dan dari setiap pandangan mata yang menyakiti.”
Rasulullah n dahulu melindungkan kedua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain, dengan doa perlindungan ini, dan bersabda:
إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسمَاعِيلَ وَإِسحَاقَ
“Sesungguhnya ayah kalian berdua[5] dulunya mengucapkan doa perlindungan ini untuk Ismail dan Ishaq.” (HR. Al-Bukhari no. 3371)
Demikianlah beberapa benteng yang dapat kita upayakan untuk menjaga rumah kita. Bila kita berpegang dengannya niscaya setan akan terusir sehingga kedamaian dan ketentraman pun bisa kita peroleh dalam rumah kita, Insya Allah.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
-----------------------------------------------------------------------
[1] Sebagaimana Allah k berfirman:
“Kaum lelaki adalah qawwam/pemimpin atas kaum wanita….” (An-Nisa’: 34)
[2] Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:
كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ
“Setiap anak Adam ditusuk oleh setan dengan dua jemarinya pada dua rusuk si anak Adam saat ia dilahirkan kecuali Isa ibnu Maryam. Setan ingin menusuknya ternyata setan menusuk pada hijab/tabir penghalang.” (HR. Al-Bukhari no. 3286)
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah z juga, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
ماَ مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلاَّ يَمَسُّهُ الشَّيطَانُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيطَانِ، غَيرَ مَريَمَ وَابْنِهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيرَةَ: {ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ }
“Tidak ada seorang pun dari anak Adam yang lahir melainkan setan menyentuhnya (menusuknya) saat ia lahir. Maka bayi yang baru lahir itu pun menjerit karena tusukan setan tersebut, selain Maryam dan putranya. Kemudian Abu Hurairah membaca ayat: “Dan sesungguhnya aku melindungkan dia (Maryam) dan anak turunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran: 36)
Disebabkan tusukan setan inilah, bayi yang baru lahir menangis karena rasa sakit yang didapatkannya. (Fathul Bari, 9/573)
[3] Maksudnya tidak ada satu ulama pun yang berpendapat si anak terjaga dari seluruh bahaya sehingga tak satupun bahaya dapat menyentuhnya.
[4]) Termasuk di dalamnya setan dari kalangan jin dan manusia.) Fathul Bari, 6/497)
[5] ) Yakni Ibrahim u. Rasulullah n menyebutnya dengan ayah karena Ibrahim adalah kakek buyut mereka.
Sumber: http://menikahindah.wordpress.com/2011/05/30/membentengi-rumah-dari-setan-bag-3/
Ucapan yang baik dan wajah yang cerah
Setan pasti punya ambisi untuk menghancurkan masyarakat Islam hingga ia membuat rencana, makar dan tipu daya. Di antara rencana yang diprogramkannya adalah menggoyahkan pondasi rumah tangga keluarga muslim, di mana rumah tangga ini merupakan batu bata awal dalam bangunan sebuah masyarakat. Sebagaimana telah kita ketahui dari hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata, “Rasulullah n bersabda:
إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)
Dengan terpisahnya pasangan suami istri niscaya pada akhirnya akan hancur pondasi suatu masyarakat. Hancurnya masyarakat manusia inilah yang didambakan oleh si musuh besar anak manusia.
Mengingat akan hal ini dan yang lainnya, maka sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, karena Allah k telah memerintahkan:
“Dan bergaullah kalian (para suami) terhadap mereka (para istri) dengan baik.” (An-Nisa: 19)
Suami selaku qawwam[1] dalam sebuah keluarga semestinya memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada istrinya, sehingga setan tidak memancing di air keruh dalam hubungan dia dengan istrinya. Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:
Katakanlah (ya Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaknyalah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Isra’: 53)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya dan Rasul-Nya n, untuk menyuruh hamba-hamba Allah yang beriman agar berbicara dan bercakap-cakap menggunakan perkataan-perkataan yang paling baik dan kalimat-kalimat thayyibah/bagus. Karena bila mereka tidak melakukan hal tersebut, niscaya setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan meningkatkan ucapan kepada perbuatan/tindakan. Hingga terjadilah kejelekan, pertikaian dan perkelahian. Karena setan, musuh Adam dan anak turunan Adam sejak saat iblis (nenek moyang para setan) menolak untuk sujud kepada Adam, dan permusuhannya ini tampak nyata….” (Tafsir Al Qur’anil Azhim, 5/66)
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ini merupakan perintah untuk mengucapkan seluruh perkataan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur’an, berzikir, menyampaikan ilmu atau diskusi ilmiah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan kalimat-kalimat baik yang lembut terhadap sesama makhluk dengan perbedaan martabat dan kedudukan mereka. Bila beredar suatu perkara di antara dua perkara yang baik, maka kita diperintah untuk mengutamakan yang paling baik di antara keduanya, jika memang tidak mungkin keduanya disatukan atau dikumpulkan.
Perkataan yang baik akan mengajak kepada seluruh akhlak yang indah dan amal yang shalih. Karena siapa yang dapat menguasai lisannya niscaya ia dapat menguasai seluruh perkaranya.
Firman Allah:
“Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”, yaitu setan mengupayakan perkara yang dapat merusak agama dan dunia mereka. Maka obat dari hal ini adalah mereka tidak menaati setan yang mengajak mereka agar mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik. Bahkan hendaknya mereka bersikap lunak di antara sesama mereka agar mematahkan setan yang ingin menimbulkan perselisihan di antara mereka. Karena setan adalah musuh mereka yang hakiki, hingga pantaslah mereka memeranginya. Apatah lagi si musuh ingin mengajak mereka, agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.
Karena setan ini terus berupaya menimbulkan perselisihan di antara mereka dan permusuhan, maka yang seharusnya dan semestinya mereka lakukan adalah berupaya melawan musuh mereka dan mematahkan jiwa-jiwa mereka yang memerintahkan kepada kejelekan, di mana setan masuk dari arah tersebut. Dengan begitu, berarti mereka menaati Rabb mereka. Akan luruslah perkara mereka, dan mereka akan terbimbing kepada kebenaran/kelurusan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 460)
Kata-kata yang baik akan melapangkan dada, melanggengkan pergaulan, menebarkan kebahagiaan di antara suami istri, mewujudkan ketenangan yang diharapkan dari diciptakannya para istri untuk para lelaki, memperkuat unsur-unsur mawaddah/ cinta dan menyuburkan rahmah/kasih sayang di antara suami istri. Allah l berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup/istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)
Bayangkanlah keadaan sebuah rumah tangga di mana sang suami suka berkata kasar kepada istrinya, menghardik dan membentak. Atau ia suka mengungkit apa yang telah diberikannya kepada istrinya, seperti mengatakan, “Aku yang capek cari duit. Kamu enak aja tinggal pakai. Makanya harus tahu diri, jangan seenaknya menggunakan duitku! “
Kalimat seperti ini tentunya melukai seorang istri, walaupun memang dalam kenyataannya si suami yang mencari nafkah dan uang yang ada dalam rumah adalah miliknya. Kalau tujuan si suami hendak menegur istrinya dalam hal pengaturan belanja rumah tangga, maka suami yang cerdas tentunya tidak akan mengungkapkannya dengan kalimat yang dapat menorehkan luka di dada istrinya.
Lalu apa persangkaan kita terhadap si suami bila ia suka mengucapkan kalimat demikian, padahal istrinya telah berupaya hemat dalam membelanjakan uang yang diberikan suaminya dan berlaku amanah terhadap harta suaminya? Tidak lain karena lisannya yang memang buruk dan tidak pandai bergaul baik dengan istrinya. Kepada suami yang demikian, hendaklah ia menyadari keburukan lisannya. Jangan terus menyakiti istrinya. Waspadalah dari kehancuran mahligai yang telah dibangun bersama istrinya, karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa setan bisa menyusup antara dia dan istrinya untuk menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Di sisi lain, seorang istri juga lebih utama dituntut untuk bertutur kata yang baik kepada suaminya dan penuh adab dalam menyampaikan ucapan, sehingga istri tidak mengangkat suaranya lebih dari suara suaminya.
Membentengi istri
Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash c mengabarkan sabda Rasulullah n:
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَليَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيرَهَا وَخَيرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّهَا وَمِن شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ؛ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأخُذ بِذَرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ.
قَالَ أَبو داود: زاد أبو سعيد: (
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia mengucapkan ; Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya. Apabila ia membeli seekor unta, hendaklah ia memegang puncak punuk untanya dan hendaknya ia mengucapkan doa semisal di atas.”
Abu Dawud berkata, “Abu Said menambahkan:
ثُمَّ لِيَأخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ باِلْبَرَكَةِ فِي الْمَرأَةِ وَالْخَادِمِ
“Kemudian hendaknya ia memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakan keberkahan pada istri atau si budak.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud)
Disenangi bagi seorang pengantin menunaikan shalat dua rakaat bersama istrinya saat ia masuk menemui istrinya sebagai upaya menjaga kehidupan rumah tangganya kelak dari setiap perkara yang tidak disenangi. Hal ini dinukilkan dari salaf. Salah satunya dari Syaqiq, ia berkata, “Datang seseorang bernama Abu Hariz. Ia mengabarkan, “Aku telah menikahi seorang gadis perawan yang masih muda dan aku khawatir ia akan membenciku.” Ibnu Mas’ud z berkata:
إِنَّ الْإِلْفَ مِنَ اللهِ وَالْفِرْكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، يُرِيدُ أَنْ يُكَرِهَّ إِلَيْكُمْ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُم. فَإِذَا أَتَتْكَ فَأْمُرْهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَينِ.
“Sesungguhnya kedekatan itu dari Allah dan kebencian itu dari setan. Setan ingin membuat kalian benci terhadap apa yang Allah halalkan kepada kalian. Maka bila engkau mendatangi istrimu, suruhlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.”
Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud ada tambahan:
وَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اللَّهُمَّّ اجْمَعْ بَينَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيرٍ
“Dan ucapkanlah: Ya Allah, berilah berkah untukku pada keluarga/isteriku dan berilah berkah untuk mereka pada diriku. Ya Allah, kumpulkanlah kami selama Engkau mengumpulkannya dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika memang Engkau memisahkannya kepada kebaikan. (HR. Ibnu Abu Syaibah dan Abdurrazzaq dalam Mushannafnya 6/191/10460-10461. Sanadnya shahih kata Al-Imam Al-Albani t. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabsrani, 3/21/2, dengan dua sanad yang shahih. Lihat Adabuz Zafaf hal. 96)
Menjaga anak dari gangguan setan
Seorang muslim semestinya menjaga zikir yang diucapkan ketika hendak berhubungan intim dengan istrinya. Karena dengan mengucapkan zikir yang demikian berarti ada upaya menjaga anak dari gangguan setan. Ibnu Abbas c menyampaikan dari Nabi n, sabda beliau, “Seandainya salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengucapkan:
بِسمِ اللهِ اللُّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيطاَنَ مَا رَزَقتَناَ؛ فَإِنْ قَضَى اللهُ بَينَهُمَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيطَانُ أَبَدًا
“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezkikan pada kami,” lalu Allah tetapkan lahirnya anak dari hubungan keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakan si anak selama-lamanya. (HR. Al-Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 3519)
Al-Qadhi Iyadh t berkata tentang bahaya yang disebutkan dalam hadits, “Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah setan tidak dapat merasuki anak yang lahir tersebut (terjaga dari kesurupan jin –pent.). Ada yang mengatakan setan tidak akan menusuk anak tersebut saat lahirnya sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang hal ini[2]. Tidak ada seorangpun yang membawa pengertian bahaya dalam hadits di atas kepada keumuman yang berupa penjagaan dari seluruh kemadaratan, was-was dan penyimpangan[3].” (Al-Ikmal, 4/610)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t menyebutkan adanya berbagai pendapat tentang maksud penjagaan si anak dari bahaya yang ditimbulkan setan seperti dinyatakan dalam hadits. Ada yang memaknakan, setan tidak apat menguasai si anak karena berkah tasmiyah(ucapan bismillah). Bahkan si anak termasuk dalam sejumlah hamba-hamba yang Allah nyatakan:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaanmu atas mereka (engkau tidak bisa menguasai mereka) terkecuali orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang sesat/menyimpang.” (Al-Hijr: 42)
Ada pula yang mengatakan setan tidak akan menusuk perut si anak. Namun pendapat ini jauh dari kebenaran, karena bertentangan dengan zahir hadits yang menyebutkan:
كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ
Ada yang berpendapat, setan tidak dapat membuatnya kesurupan. Ada pula yang berpandangan, setan tidak dapat membahayakan tubuh si anak. Ibnu Daqiqil ‘Id t berkata, “Dimungkinkan setan tidak dapat memadaratkan si anak pada agamanya juga.” Akan tetapi pendapat ini juga dipermasalahkan, karena tidak ada manusia yang maksum (terjaga dari dosa). Kata Ad-Dawudi tentang makna setan tidak akan memadaratkan si anak adalah, “Setan tidak dapat memfitnah si anak dari agamanya hingga ia keluar dari agamanya kepada kekafiran. Bukan maksudnya si anak terjaga dari berbuat maksiat.”
Ada pula yang berpandangan, setan tidak akan memadaratkan si anak dengan menyertai ayahnya menggauli ibunya, sebagaimana riwayat dari Mujahid, “Seorang lelaki yang berhubungan intim dengan istrinya dan ia tidak mengucapkan bismillah, setan akan meliliti saluran kencingnya lalu ikut menggauli istrinya bersamanya. Mungkin ini jawaban yang paling dekat. Dalam hadits ini ada beberapa faedah. Di antaranya, hadits ini mengisyaratkan setan itu terus menyertai anak Adam, tidak terusir darinya kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Fathul Bari, 9/285-286)
Menjaga anak dari hewan berbisa dan dari pandangan hasad
Anak kita yang masih kecil belum bisa membentengi dirinya sen
diri dengan zikir dan doa, termasuk tentunya zikir pagi dan petang yang dengannya Allah menjanjikan penjagaan bagi hamba yang mengamalkannya. Karenanya, kitalah sebagai orangtua yang membacakan doa perlindungan untuk si anak setiap pagi dan petang. Sambil mengusap kepalanya, kita berdoa:
أُعِيذُكُمْ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
“Aku melindungkan kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan[4], hewan berbisa dan dari setiap pandangan mata yang menyakiti.”
Rasulullah n dahulu melindungkan kedua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain, dengan doa perlindungan ini, dan bersabda:
إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسمَاعِيلَ وَإِسحَاقَ
“Sesungguhnya ayah kalian berdua[5] dulunya mengucapkan doa perlindungan ini untuk Ismail dan Ishaq.” (HR. Al-Bukhari no. 3371)
Demikianlah beberapa benteng yang dapat kita upayakan untuk menjaga rumah kita. Bila kita berpegang dengannya niscaya setan akan terusir sehingga kedamaian dan ketentraman pun bisa kita peroleh dalam rumah kita, Insya Allah.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
-----------------------------------------------------------------------
[1] Sebagaimana Allah k berfirman:
“Kaum lelaki adalah qawwam/pemimpin atas kaum wanita….” (An-Nisa’: 34)
[2] Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:
كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ
“Setiap anak Adam ditusuk oleh setan dengan dua jemarinya pada dua rusuk si anak Adam saat ia dilahirkan kecuali Isa ibnu Maryam. Setan ingin menusuknya ternyata setan menusuk pada hijab/tabir penghalang.” (HR. Al-Bukhari no. 3286)
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah z juga, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
ماَ مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلاَّ يَمَسُّهُ الشَّيطَانُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيطَانِ، غَيرَ مَريَمَ وَابْنِهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيرَةَ: {ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ }
“Tidak ada seorang pun dari anak Adam yang lahir melainkan setan menyentuhnya (menusuknya) saat ia lahir. Maka bayi yang baru lahir itu pun menjerit karena tusukan setan tersebut, selain Maryam dan putranya. Kemudian Abu Hurairah membaca ayat: “Dan sesungguhnya aku melindungkan dia (Maryam) dan anak turunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran: 36)
Disebabkan tusukan setan inilah, bayi yang baru lahir menangis karena rasa sakit yang didapatkannya. (Fathul Bari, 9/573)
[3] Maksudnya tidak ada satu ulama pun yang berpendapat si anak terjaga dari seluruh bahaya sehingga tak satupun bahaya dapat menyentuhnya.
[4]) Termasuk di dalamnya setan dari kalangan jin dan manusia.) Fathul Bari, 6/497)
[5] ) Yakni Ibrahim u. Rasulullah n menyebutnya dengan ayah karena Ibrahim adalah kakek buyut mereka.
Sumber: http://menikahindah.wordpress.com/2011/05/30/membentengi-rumah-dari-setan-bag-3/
Monday, May 23, 2011
Senyum Sang Mujahidah
Sebuah akhir yang manis dari Ustz. Yoyoh. Senyumnya mengembang, tertinggal di jasad yang sudah terdiam untuk selamanya. 2 hari sebelum wafatnya, beliau sempat mengirimkan SMS berikut: "Ya Rabb, aku sedang memikirkan bagaimana posisiku kelak di akhirat.... Mungkinkah aku brdampingan dg Khadijah ummul mukminin, atau Aisyah yang hafal 3500 hadits atau Ummu Sulaim yang sabar, atau Asma’ yg pandai menyiapkan kendaraan perang suami dan menyemangati putranya utk jihad. Ya rabb, tolong beri kekuatan agar bs berbincang dg mereka kelak di taman firdaus." Mungkin itulah pertanda akhir perjalanan dakwahnya.
[caption id="" align="aligncenter" width="320" caption="Almarhumah Utsdz. Yoyoh Yusroh"]
[/caption]
[caption id="" align="aligncenter" width="320" caption="Almarhumah Utsdz. Yoyoh Yusroh"]
Sunday, May 22, 2011
In Memoriam: Ustadzah Yoyoh Yusroh
[caption id="" align="alignleft" width="150" caption="Keluarga Ustadzah Yoyoh Yusroh"]
[/caption] Lahir di Tangerang pada tahun 1962. Saat ini telah dikaruniai Allah SWT 13 anak (9 lelaki dan 4 perempuan). Memiliki latar belakang pendidikan dari STAI Al Qudwah dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1982). Sekarang bekerja sebagai Pembimbing Utama di Biro Perjalanan Haji PT. Madani sejak tahun 2002.
Selain itu aktif juga di berbagai organisasi, antara lain sebagai Pendiri Persaudaraan Muslimah (Salimah) pada tahun 2000, Pimpinan Pusat Badan Kontak Majlis Ta’lim sejak tahun 2000 hingga sekarang, Ketua Yayasan Ibu Harapan sejak tahun 1994 hingga sekarang, Korps muballigh Jakarta sejak tahun 1982 hingga 1984, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejak tahun 1979 hingga 1980, Pelajar Islam Indonesia (PII) tahun sejak tahun 1980 hingga 1984, dan saat ini diamanahkan sebagai Ketua Imum I International Muslim Women Union (IMWU) sejak tahun 2000.
Ustadzah Yoyoh Yusroh sangat aktif sebagai nara sumber di berbagai seminar dan kongres. Beberapa kali pernah meraih penghargaan, antara lain dari International Muslim Women Union (IMWU) pada tahun 2000 dan 2003, dan dari Muballigh Nasional (Departemen Agama Pusat) pada tahun 2001.
Kiprah politiknya adalah pernah memegang amanah sebagai Ketua Departemen Kewanitaan Partai Keadilan 1998 - 2000. Dan kini duduk sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat PKS. Di parlemen ia bersama 44 aleg Fraksi PKS DPR RI lainnya, dan bertugas di Komisi VIII.
Beliau juga diketahui sebagai ‘dalang’ pernikahan kedua ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nurwahid. Seperti pengakuan Ust. Hidayat, ” Saya menikah setelah diperkenalkan anggota DPR dari PKS, Ibu Yoyoh Yusroh”. Sebagaimana diketahui, dr. Diana Abas Thalib, menikah dengan Dr. Hidayat Nurwahid pada 10 Mei 2008 lalu setelah istri pertamanya, Ustz. Kastian Indriawati, menghadap panggilan Allah beberapa bulan sebelumnya.
Beberapa coretan pemikiran Ustz. Yoyoh Yusroh bisa dilihat di www.yoyohyusroh.multiply.com.
[ petikan sebuah wawancara ]
Senyumnya terkembang ramah menyapa. Matanya teduh namun penuh semangat dan ada optimisme terpancar disana. Siapapun yang mengenalnya pastilah merindukan kesempatan untuk berbincang dengannya. Dialah Ustadzah Hajjah Yoyoh Yusroh, SPdi yang juga dikenal dengan Ummu Umar mengikut nama anak pertamanya Ahmad Umar Al Faruq, tokoh Buletin Yasmin pada edisi ini. Walaupun masih tersisa lelah setelah menunggui anaknya yang ke 11, adik Abdullah Aminuddin di Hospital Putrajaya beberapa malam kemarin, namun beliau masih bersemangat menjelaskan kiprah dakwahnya di berbagai organisasi yang ia geluti.
Wanita kelahiran Tangerang 46 tahun yang lalu itu yang 10 tahun terakhir ini aktif menjadi anggota DPR/MPR RI Komisi VIII dan tengah memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Pornografi, menekankan pentingnya peran muslimah dalam perbaikan ummat saat ini. Apa yang dibicarakannya bukan sekedar kata-kata. Pendiri Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang juga Pimpinan Pusat BKMT dan Ketua Yayasan Ibu Harapan ini memang sering sekali menjadi pembicara dalam berbagai seminar yang mengupas masalah Wanita, Pendidikan Anak dan Keluarga baik di Indonesia maupun di luar Negri.
Dalam kunjungannya yang tidak sampai sepekan di negeri jiran, Malaysia ini, Buletin Yasmin mendapat kehormatan untuk berbincang-bincang dengan beliau seputar perannya sebagai ibu rumah tangga yang tidak pernah ditinggalkannya. Wawancara ini dilakukan di sela-sela jadwal kegiatannya yang padat dan juga melalui email.
keluarga-samaradaDari jawaban yang diberikan dapat disimpulkan bahwa meskipun istri dari seorang Ustad H. Budi Dharmawan ini memiliki segudang kegiatan, namun beliau konsisten dalam mengikuti perkembangan 9 anak lelaki dan 4 anak perempuannya itu. Beliau menerapkan perlunya contoh yang baik (qudwatun hasanah) dari orang tua dan pembagian tugas di antara anak-anaknya. Anggota Dewan Pakar ICMI Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia ini juga tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap anak-anaknya. Yang paling penting menurut penerima penghargaan IMWU tahun 2003 ini adalah membentuk akidah yang kuat, menyediakan lingkungan yang sholeh dan membentuk pribadi anak sesuai karakternya. Di akhir wawancara beliau juga menyelipkan pesan moral kepada para muslimah umumnya untuk dapat mengenali kekurangan dirinya dan melakukan perbaikan sementara juga mengasah dan memaksimalkan kelebihannya untuk keluarga dan ummat.
Berikut bincang-bincang Buletin Yasmin (yunibara) dengan ibu 13 anak yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum I IMWU (International Muslim Women Union).
Bagaimana cara Ummi mendidik 13 anak mengingat kesibukan yang begitu padat?
Ummi dan Abinya dalam mendidik anak-anak lebih banyak memberikan qudwah, dan melakukan pola pendelegasi tugas terhadap anak-anak yang sudah besar. Sebagai contoh Anak pertama (Umar) memiliki kewajiban & tanggung jawab untuk menjaga dan membimbing adiknya yang ketiga (Asma) dan kebetulan mereka memang sama-sama kuliah di UGM. Anak kedua bertanggung jawab atas adiknya yang keempat dan seterusnya. Dan alhamdulillah mereka benar-benar melakukan itu karena Abi dan Ummi berusaha untuk senantiasa mengevaluasinya
Apakah selalu ada acara keluarga yang rutin agar komunikasi dengan anak-anak tetap dekat?
Setiap ada hari liburan Ummi & Abi berusaha menyempatkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama. Dulu waktu masih kecil-keci lebih mudah karena waktu liburannya bersamaan, namun setelah anak-anak besar-besar Ummi menyesuaikan dengan kebutuhan mereka masing-masing. Karena beberapa anak Ummi ada yang kos dan pesantren di luar kota & luar negeri biasanya Ummi menyempatkan untuk menelepon mereka min. sepekan sekali dan jika Ummi ada kesempatan menengok mereka di pesantren.
Aktivitas Ummi sangat menuntut kesehatan tubuh yang prima. Bagaimana cara Ummi menjaga kesehatan agar selalu bugar?
Untuk menjaga kesehatan sederhana saja sih, Ummi biasa mengkonsumsi makanan sehat sayuran, buah-buahan, makanan berprotein baik, menghindari makanan yang mengandung zat kimia serta minum madu & habbatushauda secara rutin
Seorang muslimah juga dituntut untuk menjaga penampilan untuk suami tercinta. Bagaimana dengan Ummi?
Ummi berusaha senantiasa wangi jika dekat-dekat Abi dan menjaga untuk tidak pernah tertidur dalam keadaan kelelahan sehingga ketika pulang ke rumah di waktu apapun berusaha senantiasa membersihkan tubuh dan tidur dalam keadaan wangi dan bersih
Bagaimana cara Ummi menjaga keharmonisan keluarga?
Dari semenjak awal akan menikah Ummi tidak pernah memasang target atau harapan ingin seperti apa atau bagaimana suami itu selain diennya yang menjadi kriteria yang paling utama. Semangat yang senantiasa dibangun terhadap pasangan bukanlah harapan atau tuntutan melainkan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk pasangan kita. Begitupun kepada anak-anak, yang setiap anak pasti memiliki karakternya sendiri, Ummi tidak pernah memaksakan kepada mereka harus jadi ini atau jadi itu tapi berusaha menanamkan pondasi akidah yang kuat, memberikan bi'ah yang sholeh dan biarkan mereka menjadi pribadi sesuai dengan karakternya. Memberikan motivasi yang positif dan berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka sesuai dengan kebutuhan usia & tumbuh kembangnya. Dan satu lagi yang tak kalah penting yaitu berusaha senantiasa menjaga komunikasi dalam keluarga tetap berjalan, walaupun akhir-akhir ini Ummi rasakan agak kurang karena kepadatan tugas Ummi dan kesibukan kegiatan anak-anak juga yang sudah semakin besar dan memiliki aktivitas sendiri. Tapi alhamdulillah Ummi bersyukur kepada Allah SWT anak-anak cukup mandiri dan sangat memahami orangtuanya.
Bagaimana menurut Ummi cara memaksimalkan potensi yang dimiliki seorang muslimah, agar ia dapat melaksanakan perannya dalam rumah tangga maupun di masyarakat dengan baik?
Seorang muslimah harus mampu mengenali dirinya dengan baik, sehingga ia mengetahui potensi apa saja yang ia miliki yang dapat dioptimalkan untuk kemaslahatan ummat. Kekurangan & kelebihannya disadari betul sehingga bisa melakukan langkah-langkah untuk melakukan perbaikan untuk kekurangannya dan mengasah serta memaksimalkan kelebihan yang ada pada dirinya baik untuk berperan dalam rumah tangga sendiri maupun di masyarakat.
Sumber: http://www.fokma.org/index.php?view=article&catid=9%3Atokoh&id=12%3Austadzah-yoyoh-yusroh-ibu-umat-dan-ibu-anak-anaknya&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Selain itu aktif juga di berbagai organisasi, antara lain sebagai Pendiri Persaudaraan Muslimah (Salimah) pada tahun 2000, Pimpinan Pusat Badan Kontak Majlis Ta’lim sejak tahun 2000 hingga sekarang, Ketua Yayasan Ibu Harapan sejak tahun 1994 hingga sekarang, Korps muballigh Jakarta sejak tahun 1982 hingga 1984, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejak tahun 1979 hingga 1980, Pelajar Islam Indonesia (PII) tahun sejak tahun 1980 hingga 1984, dan saat ini diamanahkan sebagai Ketua Imum I International Muslim Women Union (IMWU) sejak tahun 2000.
Ustadzah Yoyoh Yusroh sangat aktif sebagai nara sumber di berbagai seminar dan kongres. Beberapa kali pernah meraih penghargaan, antara lain dari International Muslim Women Union (IMWU) pada tahun 2000 dan 2003, dan dari Muballigh Nasional (Departemen Agama Pusat) pada tahun 2001.
Kiprah politiknya adalah pernah memegang amanah sebagai Ketua Departemen Kewanitaan Partai Keadilan 1998 - 2000. Dan kini duduk sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat PKS. Di parlemen ia bersama 44 aleg Fraksi PKS DPR RI lainnya, dan bertugas di Komisi VIII.
Beliau juga diketahui sebagai ‘dalang’ pernikahan kedua ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nurwahid. Seperti pengakuan Ust. Hidayat, ” Saya menikah setelah diperkenalkan anggota DPR dari PKS, Ibu Yoyoh Yusroh”. Sebagaimana diketahui, dr. Diana Abas Thalib, menikah dengan Dr. Hidayat Nurwahid pada 10 Mei 2008 lalu setelah istri pertamanya, Ustz. Kastian Indriawati, menghadap panggilan Allah beberapa bulan sebelumnya.
Beberapa coretan pemikiran Ustz. Yoyoh Yusroh bisa dilihat di www.yoyohyusroh.multiply.com.
[ petikan sebuah wawancara ]
Senyumnya terkembang ramah menyapa. Matanya teduh namun penuh semangat dan ada optimisme terpancar disana. Siapapun yang mengenalnya pastilah merindukan kesempatan untuk berbincang dengannya. Dialah Ustadzah Hajjah Yoyoh Yusroh, SPdi yang juga dikenal dengan Ummu Umar mengikut nama anak pertamanya Ahmad Umar Al Faruq, tokoh Buletin Yasmin pada edisi ini. Walaupun masih tersisa lelah setelah menunggui anaknya yang ke 11, adik Abdullah Aminuddin di Hospital Putrajaya beberapa malam kemarin, namun beliau masih bersemangat menjelaskan kiprah dakwahnya di berbagai organisasi yang ia geluti.
Wanita kelahiran Tangerang 46 tahun yang lalu itu yang 10 tahun terakhir ini aktif menjadi anggota DPR/MPR RI Komisi VIII dan tengah memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Pornografi, menekankan pentingnya peran muslimah dalam perbaikan ummat saat ini. Apa yang dibicarakannya bukan sekedar kata-kata. Pendiri Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang juga Pimpinan Pusat BKMT dan Ketua Yayasan Ibu Harapan ini memang sering sekali menjadi pembicara dalam berbagai seminar yang mengupas masalah Wanita, Pendidikan Anak dan Keluarga baik di Indonesia maupun di luar Negri.
Dalam kunjungannya yang tidak sampai sepekan di negeri jiran, Malaysia ini, Buletin Yasmin mendapat kehormatan untuk berbincang-bincang dengan beliau seputar perannya sebagai ibu rumah tangga yang tidak pernah ditinggalkannya. Wawancara ini dilakukan di sela-sela jadwal kegiatannya yang padat dan juga melalui email.
keluarga-samaradaDari jawaban yang diberikan dapat disimpulkan bahwa meskipun istri dari seorang Ustad H. Budi Dharmawan ini memiliki segudang kegiatan, namun beliau konsisten dalam mengikuti perkembangan 9 anak lelaki dan 4 anak perempuannya itu. Beliau menerapkan perlunya contoh yang baik (qudwatun hasanah) dari orang tua dan pembagian tugas di antara anak-anaknya. Anggota Dewan Pakar ICMI Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia ini juga tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap anak-anaknya. Yang paling penting menurut penerima penghargaan IMWU tahun 2003 ini adalah membentuk akidah yang kuat, menyediakan lingkungan yang sholeh dan membentuk pribadi anak sesuai karakternya. Di akhir wawancara beliau juga menyelipkan pesan moral kepada para muslimah umumnya untuk dapat mengenali kekurangan dirinya dan melakukan perbaikan sementara juga mengasah dan memaksimalkan kelebihannya untuk keluarga dan ummat.
Berikut bincang-bincang Buletin Yasmin (yunibara) dengan ibu 13 anak yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum I IMWU (International Muslim Women Union).
Bagaimana cara Ummi mendidik 13 anak mengingat kesibukan yang begitu padat?
Ummi dan Abinya dalam mendidik anak-anak lebih banyak memberikan qudwah, dan melakukan pola pendelegasi tugas terhadap anak-anak yang sudah besar. Sebagai contoh Anak pertama (Umar) memiliki kewajiban & tanggung jawab untuk menjaga dan membimbing adiknya yang ketiga (Asma) dan kebetulan mereka memang sama-sama kuliah di UGM. Anak kedua bertanggung jawab atas adiknya yang keempat dan seterusnya. Dan alhamdulillah mereka benar-benar melakukan itu karena Abi dan Ummi berusaha untuk senantiasa mengevaluasinya
Apakah selalu ada acara keluarga yang rutin agar komunikasi dengan anak-anak tetap dekat?
Setiap ada hari liburan Ummi & Abi berusaha menyempatkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama. Dulu waktu masih kecil-keci lebih mudah karena waktu liburannya bersamaan, namun setelah anak-anak besar-besar Ummi menyesuaikan dengan kebutuhan mereka masing-masing. Karena beberapa anak Ummi ada yang kos dan pesantren di luar kota & luar negeri biasanya Ummi menyempatkan untuk menelepon mereka min. sepekan sekali dan jika Ummi ada kesempatan menengok mereka di pesantren.
Aktivitas Ummi sangat menuntut kesehatan tubuh yang prima. Bagaimana cara Ummi menjaga kesehatan agar selalu bugar?
Untuk menjaga kesehatan sederhana saja sih, Ummi biasa mengkonsumsi makanan sehat sayuran, buah-buahan, makanan berprotein baik, menghindari makanan yang mengandung zat kimia serta minum madu & habbatushauda secara rutin
Seorang muslimah juga dituntut untuk menjaga penampilan untuk suami tercinta. Bagaimana dengan Ummi?
Ummi berusaha senantiasa wangi jika dekat-dekat Abi dan menjaga untuk tidak pernah tertidur dalam keadaan kelelahan sehingga ketika pulang ke rumah di waktu apapun berusaha senantiasa membersihkan tubuh dan tidur dalam keadaan wangi dan bersih
Bagaimana cara Ummi menjaga keharmonisan keluarga?
Dari semenjak awal akan menikah Ummi tidak pernah memasang target atau harapan ingin seperti apa atau bagaimana suami itu selain diennya yang menjadi kriteria yang paling utama. Semangat yang senantiasa dibangun terhadap pasangan bukanlah harapan atau tuntutan melainkan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk pasangan kita. Begitupun kepada anak-anak, yang setiap anak pasti memiliki karakternya sendiri, Ummi tidak pernah memaksakan kepada mereka harus jadi ini atau jadi itu tapi berusaha menanamkan pondasi akidah yang kuat, memberikan bi'ah yang sholeh dan biarkan mereka menjadi pribadi sesuai dengan karakternya. Memberikan motivasi yang positif dan berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka sesuai dengan kebutuhan usia & tumbuh kembangnya. Dan satu lagi yang tak kalah penting yaitu berusaha senantiasa menjaga komunikasi dalam keluarga tetap berjalan, walaupun akhir-akhir ini Ummi rasakan agak kurang karena kepadatan tugas Ummi dan kesibukan kegiatan anak-anak juga yang sudah semakin besar dan memiliki aktivitas sendiri. Tapi alhamdulillah Ummi bersyukur kepada Allah SWT anak-anak cukup mandiri dan sangat memahami orangtuanya.
Bagaimana menurut Ummi cara memaksimalkan potensi yang dimiliki seorang muslimah, agar ia dapat melaksanakan perannya dalam rumah tangga maupun di masyarakat dengan baik?
Seorang muslimah harus mampu mengenali dirinya dengan baik, sehingga ia mengetahui potensi apa saja yang ia miliki yang dapat dioptimalkan untuk kemaslahatan ummat. Kekurangan & kelebihannya disadari betul sehingga bisa melakukan langkah-langkah untuk melakukan perbaikan untuk kekurangannya dan mengasah serta memaksimalkan kelebihan yang ada pada dirinya baik untuk berperan dalam rumah tangga sendiri maupun di masyarakat.
Sumber: http://www.fokma.org/index.php?view=article&catid=9%3Atokoh&id=12%3Austadzah-yoyoh-yusroh-ibu-umat-dan-ibu-anak-anaknya&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Saturday, May 14, 2011
Doa: Cermin Muslim Sejati
Doa merupakan inti ibadah, demikian Sabda Rasulullah SAW. Dengan demikian doa merupakan sebuah pilar penting dari peribadatan kita. Doa merupakan cermin seorang Muslim yang sangat menggantungkan dirinya kepada Allah SWT. Dengan kita mengucapkan doa ini maka kita menempatkan diri sebagai seorang hamba yang mengharapkan doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Kita bersikap menghambakan diri kepada Allah SWT. Posisi inilah yang kemudian akan memberikan keyakinan bahwa semua doa akan dijawab Allah SWT.
Allah sendiri berfirman dalam Surat Al Mukin aya 60:
dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.
Bahkan Allah SWT memuji hambanya yang berdoa kepada Nya seperti tercantum dalam Surat Al Anbiya ayat 90.
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.
Setiap waktu kita berdoa, memohon sesuatu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap hari pula kita menantikan jawaban dari Allah. Dan inilah yang meneguhkan orang beriman bahwa Allah mendengarkan doa hambanya bahkan sekalipun hanya melintas dalam hati apalagi kalau diucapkan dengan nada memohon dan mengharap.
Allah sendiri menegaskan mendengarkan doa hambaNya dan akan mengabulkan permintaannya.
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Kini saatnya kita mengubah orientasi dari memohon kepada mahluk apalagi memmohon kepada benda, menjadi totalitas menggantungkan harapan kepada Allah. Allah Maha Perkasa, Maha Kaya dan Maha Kuasa pasti akan mengabulkan hambanya yang mengajukan permohonan untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat dalam Ridha-Nya.
Sumber: http://www.oasetarbiyah.com/?p=381
Allah sendiri berfirman dalam Surat Al Mukin aya 60:
dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.
Bahkan Allah SWT memuji hambanya yang berdoa kepada Nya seperti tercantum dalam Surat Al Anbiya ayat 90.
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.
Setiap waktu kita berdoa, memohon sesuatu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap hari pula kita menantikan jawaban dari Allah. Dan inilah yang meneguhkan orang beriman bahwa Allah mendengarkan doa hambanya bahkan sekalipun hanya melintas dalam hati apalagi kalau diucapkan dengan nada memohon dan mengharap.
Allah sendiri menegaskan mendengarkan doa hambaNya dan akan mengabulkan permintaannya.
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Kini saatnya kita mengubah orientasi dari memohon kepada mahluk apalagi memmohon kepada benda, menjadi totalitas menggantungkan harapan kepada Allah. Allah Maha Perkasa, Maha Kaya dan Maha Kuasa pasti akan mengabulkan hambanya yang mengajukan permohonan untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat dalam Ridha-Nya.
Sumber: http://www.oasetarbiyah.com/?p=381
Subscribe to:
Comments (Atom)